™MISDINAR™

™misdinar™

gdgdg

™PAKAIAN LITURGI KATOLIK™

Dalam perayaan liturgi dan ibadat, para petugas memakai pakaian tertentu. Ada berbagai jenis pakaian liturgi yang disesuaikan dengan fungsi dan pemakainya. Pakaian ini melambangkan suasana liturgi yang dirayakan saat itu.

Jubah

Jubah adalah pakaian yang hanya dikenakan oleh imam, atau frater. Biasanya berwarna putih panjang, berlengan panjang.

Kasula

Kasula adalah pakaian luar yang dikenakan imam saat memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula dikenakan diluar jubah atau alba. Kasula ini adalah pakaian resmi untuk imam yang wajib dikenakan saat memimpin Perayaan Ekaristi. Warna kasula selalu disesuaikan dengan warna liturgi pada saat itu, dan jenis pesta peringatannya.

Stola

Stola adalah pakaian liturgi berbentuk seperti selendang yang dikalungkan. Stola hanya boleh dipakai oleh orang-orang yang telah ditahbiskan yaitu, uskup, imam, diakon (calon imam). Stola merupakan simbo pemimpin liturgi. Maka tidak boleh dikenakan oleh orang yang tidak ditahbiskan. Stola biasa dipakai saat memberikan Sakramen Pengampunan dosa, saat memberikan Sakramen Minyak Suci, dan saat memimpin ibadat lainnya. Warna stola selalu disesuaikan dengan warna liturgi pada saat itu, dan jenis pesta peringatannya.

Pluviale

Pluviale adalah kain seperti mantel yang besar dan diberi hiasan indah. Pemakaiannya adalah dengan cara dikalungkan dari belakang dan dikancingkan pada bagian depan. Pluviale dipakai pada saat prosesi, adorasi, pemberkatan Sakramen Maha Kudus. Atau saat pemberkatan perkawinan tanpa Misa Kudus.

Velum

Velum adalah kain selubung berbentuk persegi panjang besar dengan ukuran lebar 2-3 meter, yang dihias indah, biasanya berwarna putih atau kuning. Biasanya dipakai imam untuk membungkus Sibori pada saat menyimpan Sakramen Mahakudus.

Amik

Amik adalah kain persegi empat yg pada kedua ujung atasnya terdapat tali yang panjang. Amik dipakai imam untuk menutupi krah baju atau jubah yang tidak berwarna putih. Amik dipakai sebelum mengenakan alba.

Alba

Alba adalah jubah panjang tipis berwarna putih. Alba berasal dari bahasa Latin “albus” yang artinya putih. Alba biasanya dipakai oleh imam atau diakon (calon imam) yang belum memakai jubah, dan imam atau diakon yang ubahnya tidak berwarna putih . Alba bisa juga dipakai oleh para petugas liturgi lainnya, seperti: prodiakon, lektor, misdinar, dan pemazmur.

Superpli

Superpli adalah pakaian luar seperti rok yang panjangnya dari leher sampai atas lutut. Berwarna putih dan berlengan panjang. Biasa dipakai oleh imam, bruder, frater. Superpli dipakai di atas jubah imam, bruder, atau frater.

Dalmatik

Dalmatik berbentik seperti kasula, hanya biasanya pada ujungnya berbentuk persegi atau bersudut. Bermotif garis-garis salib besar. Hanya dipakai oleh diakon yang ditahbiskan (calon imam)

Samir

Samir adalah perlengkapan liturgi berupa kain seperti selendang kecil dikalungkan di leher yang kedua ujungnya menyatu, yang diberi hiasan salib pada ujungnya. Samir biasa dipakai oleh prodiakon & lektor. Warna samir selalu disesuaikan dengan warna liturgi pada saat itu, dan jenis pesta peringatannya.

Singel

Singel adalah sebuah tali panjang yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Singel ini boleh dipakai oleh siapa saja yang memakai alba, atau yang albanya terlalu besar. Singel dipakai untuk merapikan dan mengikat alba.

Daftar Nama-Nama Bapa Suci (PAUS)

No Nama Masa kepausan Nama lahir
1 Paus Santo Petrus 32-64/67 (?) Simon bin Yunus
2 Paus Santo Linus 67-79 Linus
3 Paus Santo Anakletus 79-88 Anacletus
4 Paus Santo Klemens I 88-97 ?
5 Paus Santo Evaristus 97-105 Aristus
6 Paus Santo Aleksander I 105-115 Alexander
7 Paus Santo Siktus I 115-125 Sixtus, Xystus
8 Paus Santo Telesphorus 125-136 Telesphorus
9 Paus Santo Hyginus 136-140 ?
10 Paus Santo Pius I 140-155 Pius
11 Paus Santo Anisetus 155-166 Anicetus
12 Paus Santo Soter 166-175 Soter
13 Paus Santo Eleutherius 175-189 Eleuterus/Eleutherius
14 Paus Santo Viktor I 189-199 ?
15 Paus Santo Zephyrinus 199-217 Zephyrinus
16 Paus Santo Kallistus I 217-222 Callixtus/Callistus
17 Paus Santo Urbanus I 222-230 Urbanus
18 Paus Santo Pontianus 230-235 Pontian
19 Paus Santo Anterus 235-236 Anterus
20 Paus Santo Fabianus 236-250 Fabianus, Flavianus
21 Paus Santo Kornelius 251-253 Kornelis
22 Paus Santo Lusius I 253-254 Lusius
23 Paus Santo Stefanus I 254-257 Stefanus
24 Paus Santo Siktus II 257-258 Siktus
25 Paus Santo Dionisius 260-268 Dionisius
26 Paus Santo Feliks I 269-274 Feliks
27 Paus Santo Eutychianus 275-283 Eutychianus
28 Paus Santo Gaius 283-296 Gaius, Caius
29 Paus Santo Marselinus 296-304 Marselinus
30 Paus Santo Marsellus I 308-309 Marsellus
31 Paus Santo Eusebius 309-310 Eusebius
32 Paus Santo Meltiades 311-314 Meltiades
33 Paus Santo Silvester I 314-335 Silvester
34 Paus Santo Markus 335-336 Markus
35 Paus Santo Julius I 337-352 Julis
36 Paus Liberius 352-366 Liberius
37 Paus Santo Damasus I 366-383 Damasus
38 Paus Santo Sirikus 384-399 Sirikus
39 Paus Santo Anastasius I 399-401 Anastasius
40 Paus Santo Innosensius I 401-417 ?
41 Paus Santo Zosimus 417-418 Zosimus
42 Paus Santo Bonifasius I 418-422 ?
43 Paus Santo Selestinus I 422-432 Selestinus
44 Paus Santo Siktus III 432-440 ?
45 Paus Santo Leo I 440-461 Leo
46 Paus Santo Hilarius 461-468 Hilarius, Hilarus
47 Paus Santo Simplisius 468-483 Simplisius
48 Paus Santo Feliks III 483-492 ?
49 Paus Santo Gelasius I 492-496 Gelasius
50 Paus Anastasius II 496-498 Anastasius
51 Paus Santo Symnakus 498-514 Symnakus
52 Paus Santo Hormidas 514-523 Hormidas
53 Paus Santo Yohanes I 523-526 ?
54 Paus Santo Feliks IV 526-530 ?
55 Paus Bonifasius II 530-532 ?
56 Paus Yohanes II 533-535 Merkurius
57 Paus Santo Agapitus I 535-536 ?
58 Paus Santo Silverius 536-537 Silverius
59 Paus Vigilius 537-555 Vigilius
60 Paus Pelagius I 556-561 Pelagius
61 Paus Yohanes III 561-574 Yohanes Katelinus
62 Paus Benediktus I 575-579 Benediktus
63 Paus Pelagius II 579-590 Pelagius
64 Paus Santo Gregorius I Agung 590-604 Gregorius
65 Paus Sabianus 604-606 ?
66 Paus Bonifasius III 607 ?
67 Paus Santo Bonifasius IV 608-615 ?
68 Paus Santo Adeodatus I 615-618 Deusdeditus, putra Stefanus
69 Paus Bonifasius V 619-625 ?
70 Paus Honorius I 625-638 ?
71 Paus Severinus 640 ?
72 Paus Yohanes IV 640-642 ?
73 Paus Theodorus I 642-649 ?
74 Paus Santo Martinus I 649-654 ?
75 Paus Santo Eugenius I 654-657 ?
76 Paus Santo Vitalianus 657-672 ?
77 Paus Adeodatus II 672-676 ?
78 Paus Donus 676-678 ?
79 Paus Santo Agathus 678-681 ?
80 Paus Santo Leo II 682-683 ?
81 Paus Santo Benediktus II 684-685 ?
82 Paus Yohanes V 685-686 ?
83 Paus Conon 686-687 ?
84 Paus Santo Sergius I 687-701 ?
85 Paus Yohanes VI 701-705 ?
86 Paus Yohanes VII 705-707 ?
87 Paus Sisinnius 708 ?
88 Paus Konstantinus 708-715 Konstantinus
89 Paus Santo Gregorius II 715-731 ?
90 Paus Santo Gregorius III 731-741 ?
91 Paus Santo Zakarias 741-752 Zakarias, putra Polikronius
92 Paus Stefanus II 752-757 ?
93 Paus Santo Paulus I 757-767 ?
94 Paus Stefanus III 767-772 ?
95 Paus Adrianus I 772-795 ?
96 Paus Santo Leo III 795-816 ?
97 Paus Stefanus IV 816-817 ?
98 Paus Santo Paskalis I 817-824 Paskalis Massimi, putra Bonosus
99 Paus Eugenius II 824-827 ?
100 Paus Valentinus 827 ?
101 Paus Gregorius IV 827-844 ?
102 Paus Sergius II 844-847 ?
103 Paus Santo Leo IV 847-855 ?
104 Paus Benediktus III 855-858 ?
105 Paus Santo Nikolas I Agung 858-867 ?
106 Paus Adrianus II 867-872 ?
107 Paus Yohanes VIII 872-882 ?
108 Paus Marinus I 882-884 ?
109 Paus Santo Adrianus III 884-885 ?
110 Paus Stefanus V 885-891 ?
111 Paus Formosus 891-896 ?
112 Paus Bonifasius VI 896 ?
113 Paus Stefanus VI 896-897 ?
114 Paus Romanus 897 ?
115 Paus Theodorus II 897 ?
116 Paus Yohanes IX 898-900 ?
117 Paus Benediktus IV 900-903 ?
118 Paus Leo V 903 ?
119 Paus Sergius III 904-911 Sergius
120 Paus Anastasius III 911-913 Anastasius
121 Paus Lando 913-914 Lando
122 Paus Yohanes X 914-928 Yohanes
123 Paus Leo VI 928-929 Leo
124 Paus Stefanus VII 929-931 Stefanus
125 Paus Yohanes XI 931-935 Yohanes
126 Paus Leo VII 936-939 ?
127 Paus Stefanus VIII 939-942 ?
128 Paus Marinus II 942-946 ?
129 Paus Agapitus II 946-955 Agapitus
130 Paus Yohanes XII 955-963 Oktavianus
131 Paus Leo VIII 963-964 ?
132 Paus Benediktus V 964 ?
133 Paus Yohanes XIII 965-972 Yohanes
134 Paus Benediktus VI 973-974 ?
135 Paus Benediktus VII 974-983 ?
136 Paus Yohanes XIV 983-984 Peter Campenora
137 Paus Yohanes XV 985-996 Yohanes
138 Paus Gregorius V 996-999 Bruno dari Carinthia
139 Paus Silvester II 999-1003 Gerbert d'Aurillac
140 Paus Yohanes XVII 1003 Siccone
141 Paus Yohanes XVIII 1003-1009 Fasanius
142 Paus Sergius IV 1009-1012 Pietro Martino Boccapecora
143 Paus Benediktus VIII 1012-1024 Theophylactus
144 Paus Yohanes XIX 1024-1032 Romanus
145 Paus Benediktus IX 1032-1044 Theophylactus
146 Paus Silvester III 1045 Yohanes
147 Paus Benediktus IX 1045 Theophylactus
148 Paus Gregorius VI 1045-1046 Yohanes Gratianus
149 Paus Klemens II 1046-1047 Suitger, Lord Morsleben & Hornburg
150 Paus Benediktus IX 1047-1048 Theophylactus
151 Paus Damasus II 1048 Poppo
152 Paus Santo Leo IX 1049-1054 Bruno dari Eguisheim-Dagsburg
153 Paus Viktor II 1055-1057 Gebhard
154 Paus Stefanus IX 1057-1058 Frederick
155 Paus Nikolas II 1058-1061 Gerard
156 Paus Aleksander II 1061-1073 Anselmo da Baggio
157 Paus Santo Gregorius VII 1073-1085 Hildebrand
158 Paus Viktor III 1086-1087 Dauferius atau Desiderius
159 Paus Urbanus II 1088-1099 Otto diLagery
160 Paus Paskalis II 1099-1118 Raniero
161 Paus Gelasius II 1118-1119 Giovanni Caetani
162 Paus Kallistus II 1119-1124 Guido dari Burgundi
163 Paus Honorius II 1124-1130 Lamberto
164 Paus Innosensius II 1130-1143 Gregorio Papareschi
165 Paus Selestinus II 1143-1144 Guido
166 Paus Lusius II 1144-1145 Gerardo Caccianemici
167 Paus Eugenius III 1145-1153 Bernardo Paganelli di Montemagno
168 Paus Anastasius IV 1153-1154 Corrado
169 Paus Adrianus IV 1154-1159 Nicholas Breakspear
170 Paus Aleksander III 1159-1181 Rolando Bandinelli
171 Paus Lusius III 1181-1185 Ubaldo Allucingoli
172 Paus Urbanus III 1185-1187 Uberto Crivelli
173 Paus Gregorius VIII 1187 Alberto de Morra
174 Paus Klemens III 1187-1191 Paulo Scolari
175 Paus Selestinus III 1191-1198 Giacinto Bobone
176 Paus Innosensius III 1198-1216 Lotario dei Conti di Segni
177 Paus Honorius III 1216-1227 Cencio Savelli
178 Paus Gregorius IX 1227-1241 Ugolino, Count Segni
179 Paus Selestinus IV 1241 Goffredo Castiglioni
180 Paus Innosensius IV 1243-1254 Sinibaldo Fieschi
181 Paus Aleksander IV 1254-1261 Rinaldo
182 Paus Urbanus IV 1261-1264 Jacques Pantalon
183 Paus Klemens IV 1265-1268 Guy Foulques atau Guido le Gros
184 Paus Gregorius X 1271-1276 Teobaldo Visconti
185 Paus Innosensius V 1276 Peter dari Tarentaise
186 Paus Adrianus V 1276 Ottobono Fieschi
187 Paus Yohanes XXI 1276-1277 Petrus Juliani atau Petrus Hispanus
188 Paus Nikolas III 1277-1280 Giovanni Gaetano Orsini
189 Paus Martinus IV 1281-1285 Simon de Brie
190 Paus Honorius IV 1285-1287 Giacomo Savelli
191 Paus Nikolas IV 1288-1292 Girolamo Masci
192 Paus Santo Selestinus V 1294 Pietro del Murrone
193 Paus Bonifasius VIII 1294-1303 Benedetto Caetani
194 Paus Benediktus XI 1303-1304 Niccolo Boccasini
195 Paus Klemens V 1305-1314 Bertrand de Got
196 Paus Yohanes XXII 1316-1334 Jacques d'Euse
197 Paus Benediktus XII 1334-1342 Jacques Fournier
198 Paus Klemens VI 1342-1352 Pierre Roger
199 Paus Innosensius VI 1352-1362 Etienne Aubert
200 Paus Urbanus V 1362-1370 Guillaume de Grimoard
201 Paus Gregorius XI 1370-1378 Pierre Roger de Beaufort
202 Paus Urbanus VI 1378-1389 Bartolomeo Prignano
203 Paus Bonifasius IX 1389-1404 Pietro Tomacelli
204 Paus Innosensius VII 1404-1406 Cosma Migliorati
205 Paus Gregorius XII 1406-1415 Angelo Correr
206 Paus Martinus V 1417-1431 Oddone Colonna
207 Paus Eugenius IV 1431-1447 Gabriele Condulmer
208 Paus Nikolas V 1447-1455 Tommaso Parentucelli
209 Paus Kallistus III 1455-1458 Alfonso Borgia
210 Paus Pius II 1458-1464 Enea Silvio Piccolomini
211 Paus Paulus II 1464-1471 Pietro Barbo
212 Paus Siktus IV 1471-1484 Francesco della Rovere
213 Paus Innosensius VIII 1484-1492 Giovanni Battista Cibo
214 Paus Aleksander VI 1492-1503 Rodrigo Borgia
215 Paus Pius III 1503 Francesco Todeschini-Piccolomini
216 Paus Julius II 1503-1513 Giuliano della Rovere
217 Paus Leo X 1513-1521 Giovanni de'Medici
218 Paus Adrianus VI 1522-1523 Adrian Florensz
219 Paus Klemens VII 1523-1534 Giulio de'Medici
220 Paus Paulus III 1534-1549 Alessandro Farnese
221 Paus Julius III 1550-1555 Giovanni Maria Ciocchi
222 Paus Marsellus II 1555 Marcello Cervini
223 Paus Paulus IV 1555-1559 Gian Pietro Carafa
224 Paus Pius IV 1559-1565 Giovan Angelo de'Medici
225 Paus Santo Pius V 1566-1572 Antonio-Michele Ghislieri
226 Paus Gregorius XIII 1572-1585 Ugo Buoncompagni
227 Paus Siktus V 1585-1590 Felice Peretti
228 Paus Urbanus VII 1590 Giambattista Castagna
229 Paus Gregorius XIV 1590-1591 Niccolo Sfondrati
230 Paus Innosensius IX 1591 Giovanni Antonio Facchinetti
231 Paus Klemens VIII 1592-1605 Ippolito Aldobrandini
232 Paus Leo XI 1605 Alessandro de'Medici
233 Paus Paulus V 1605-1621 Camillo Borghese
234 Paus Gregorius XV 1621-1623 Alessandor Ludovisi
235 Paus Urbanus VIII 1623-1644 Maffeo Barberini
236 Paus Innosensius X 1644-1655 Giovanni Battista Pamfili
237 Paus Aleksander VII 1655-1667 Fabio Chigi
238 Paus Klemens IX 1667-1669 Giulio Rospigliosi
239 Paus Klemens X 1670-1676 Emilio Altieri
240 Paus Innosensius XI 1676-1689 Benedetto Odescalchi
241 Paus Aleksander VIII 1689-1691 Pietro Ottoboni
242 Paus Innosensius XII 1691-1700 Antonio Pignatelli
243 Paus Klemens XI 1700-1721 Giovanni Francesco Albani
244 Paus Innosensius XIII 1721-1724 Michelangelo dei Conti
245 Paus Benediktus XIII 1724-1730 Pietro Francesco-Vincenzo Maria-Orsini
246 Paus Klemens XII 1730-1740 Lorenzo Corsini
247 Paus Benediktus XIV 1740-1758 Prospero Lambertini
248 Paus Klemens XIII 1758-1769 Carlo Rezzonico
249 Paus Klemens XIV 1769-1774 Giovanni Vincenzo Antonio-Lorenzo-Ganganelli
250 Paus Pius VI 1775-1799 Giovanni Angelo Braschi
251 Paus Pius VII 1800-1823 Barnaba-Gregorio-Chiaramonti
252 Paus Leo XII 1823-1829 Annibale della Genga
253 Paus Pius VIII 1829-1830 Fracesco Saverio Castiglioni
254 Paus Gregorius XVI 1831-1846 Bartolomeo Alberto-Mauro-Cappelari
255 Paus Pius IX 1846-1878 Giovanni M. Mastai-Ferretti
256 Paus Leo XIII 1878-1903 Gioacchino Pecci
257 Paus Santo Pius X 1903-1914 Giuseppe Sarto
258 Paus Benediktus XV 1914-1922 Giacomo della Chiesa
259 Paus Pius XI 1922-1939 Achille Ratti
260 Paus Pius XII 1939-1958 Eugenio Pacelli
261 Paus Yohanes XXIII 1958-1963 Angelo Giuseppe Roncalli
262 Paus Paulus VI 1963-1978 Giovanni Battista Montini
263 Paus Yohanes Paulus I 1978 Albino Luciani
264 Paus Yohanes Paulus II 1978-2005 Karol Jozef Wojtyla
265 Paus Benediktus XVI 2005-sekarang Joseph Alois Ratzinger

Senin, 23 Januari 2012

Sikap-Sikap Liturgi


Berlutut

Bertekuk lutut berarti memperkecil diri dihadapan Allah. Orang yang sombong selalu mengangkat kepalanya dan menegakkan badannya, merasa lebih tinggi, lebih hebat daripada orang lain. Sebaliknya, orang rendah hati senantiasa menyadari bahwa dirinya amat kecil di hadapan Tuhan. Maka ia berlutut.

Tunduk Kepala

Menunudukkan kepala dan membungkuk merupakan cara-cara menghormati seseorang. Membungkuk adalah tanda penghormatan yang lebih besar. Di altar kita tidak hanya menundukan kepala, tetapi sungguh membungkuk untuk merendahkan diri.

Berdiri

Pada permulaan Misa, bila imam bersama dengan misdinar datang ke altar, umat berdiri. Sikap berdiri itu merupakan tanda hormat kepada imam yang mewakili Kristus. Berdiri yang baik adalah berdiri tegak dengan kedua kaki dan tidak bersandar pada apapun.

Duduk

Duduk adalah sikap yang tenang. Duduk adalah sikap orang sedang memikirkan atau mendengarkan sesuatu. Misalnya duduk mendengarkan khotbah, sikap ini menolong kita agar mendengarkan dengan penuh perhatian dan merenungkan apa yang baru didengarnya.

Berjalan

Kita berjalan, kalau kita ingin menuju suatu tempat untuk melakukan sesuatu. Sama halnya di gereja. Tetapi di gereja tidak pernah tergesa-gesa. Untuk Tuhan kita selalu mempunyai waktu seluas-luasnya. Misdinar yang berjalan tergesa-gesa seperti orang gugup, tidak dapat menciptakan suasana tenang dan khidmat.

Mengatup tangan

Dari pagi hingga malam hari kita terus-terusan memakai tangan untuk segala macam keperluan. Tangan kita selalu sibuk. Tetapi bila kita mengatup tangan, kita menjadi tenang. Hentikan kesibukan. Kita dapat memusatkan pikiran, dengan menyadari bahwa Kristus bersama dengan kita. Kita berani menyerahkan jiwa dan raga kepadaNya, biarlah Dia yang menjaga dan memelihara kita.

Berdoa dengan tangan terentang

Dalam misa kita dapat melihat imam beberapa kali merentangkan tangan, yaitu bila mengucapkan doa. Berdoa dengan tangan terentang adalah suatu sikap doa yang sudah dipakai sejak abad-abad pertama. Dengan sikap itu kita menyatakan penyerahan kita kepada kehendak Bapa. Sikap itu mengingatkan kita kepada Yesus yang rela merentangkan tangannya di atas kayu salib. Maka selayaknya kita mengikuti sikap itu, ketika sedang menyanyikan / berdoa Bapa Kami.

Membuat Tanda Salib

Dengan membuat tanda salib kita mengenangkan pembaptisan kita “Demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”, tanda salib merupakan tanda iman kita. Tanda itu kita gunakan untuk memulai dan mengakhiri doa yang kita panjatkan. Ada pula tanda salib kecil yang biasa kita lakukan dengan ibu jari tiga kali ketika Bacaan Injil.

Adapun kata-katanya adalah “InjilMu kuterima dengan budi, kuakui dengan mulutku dan kusimpan dalam hatiku”

Mengecup

Mengecup adalah tanda untuk menyatakan bahwa kita mencintai seseorang atau sesuatu. Ibadat Ekaristi dirayakan di altar, bahkan Tubuh dan Dara Kristus diletakan di altar. Maka pada awal dan akhir Misa, imam selalu mengecup altar. Itu sebagai tanda bahwa ia menyatakan rasa cinta dan hormatnya bagi altar sebagai tempat kehadiran Kristus.

Bersalaman

Orang bersalam-salaman dengan banyak cara. Dalam Misa, sebelum komuni, imam kadang-kadang mengajak umat untuk bersalaman (Salam Damai). Hal itu dilakukan dengan berjabat tangan. Kita mau hidup rukun dengan Tuhan, berarti kita mau hidup rukun dengan sesama kita.

Menepuk dada

Menepuk dada adalah tanda penyesalan. Kita lakukan ketika mengatakan “Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa” dalam doa : saya mengaku. Juga pada mengakhiri doa Anak Domba Allah dengan kata “Kasihanilah kami” kita melakukannya dengan mengepal tangan kanan dan memukul ke dada.

Bersila

Bersila adalah sikap duduk dengan melipat dan menyilangkan kaki. Sikap doa khas Timur ini, yang tersebar di seluruh Asia Selatan dan Timur, dari India sampai ke Jepang, adalah amat baik untuk dipakai dalam perayaan liturgi juga. Pada saat-saat tertentu misdinar dapat memakai sikap ini.

Sembah

Sembah juga dikenal di banyaj negara Asia sebagai pernyataan hormat dan penyembahan. Alangkah baiknya bila kita pakai, untuk menyembah Sakramen Mahakudus.

Selasa, 18 Oktober 2011

Sejarah Paroki Katedral Medan


Pada awal berdirinya tahun 1879, Gereja Katedral Medan adalah sebuah gubuk beratap daun rumbia dan ijuk tempat beribadat puluhan umat Katolik (yang mayoritas suku India-Tamil dan Belanda) di Jl Pemuda No 1 (dulu disebut dan dikenal sebagai Jl Istana). Melihat perkembangan jumlah umat yang pada tahun 1884 sudah berjumlah 193 orang, maka sejak tahun itu sudah dipikirkan bagaimana memperbaiki dan memperbesar gubuk beratap daun rumbia dan ijuk tersebut. Barulah pada tahun 1905, ketika umat Katolik sudah berjumlah 1200 orang, pembangunan Gereja yang sekarang ini mulai dilaksanakan.  Pembangunan gereja pada tahun 1905 tersebut diprakarsai dan dilaksanakan oleh para Pastor Ordo Jesuit yang bekerja di Medan. Gereja Katedral ini pada waktu itu dibangun dengan dinding batu, beratap seng dan sebagian masih beratap daun rumbia dan ijuk serta diresmikan pada bulan Nopember tahun itu juga.

          Mulai 30 Januari 1928, Gereja diperluas dengan menambah bagian panti imam, ruang pengakuan dosa serta dengan pelataran depan dan menara. Perluasan dan pembangunan permanent pada tahun 1928 tersebut dirancang oleh arsitek Belanda yang bernama Mr. Han Groenewegen dan dilaksanakan oleh Mr. Langereis. Hasil dari rancangan arsitek dan pelaksanakan tersebut  yang dapat kita lihat saat ini, yang menjadikan Gereja Katedral di Jl Pemuda No 1 Medan (dikenal dengan sebutan Gereja Katedral) sebagai salah satu bangunan tua bersejarah dan bernilai arsitek yang tinggi di kota Medan ini. Sebutan lengkap dan resmi untuk Gereja Katedral ini adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan.

          Ada satu bangunan tua lain di sisi kanan dari Gereja Katedral. Bangunan tersebut adalah rumah tempat tinggal para pastor yang biasa dikenal dengan sebutan pastoran. Pastoran Katedral dibangun pada tahun 1906 berdinding kayu dan juga beratap rumbia dan ijuk. Barulah dalam masa selama tahun 1964 – 1965 bangunan pastoran tersebut diganti dengan gedung permanent sebagaimana yang dapat kita lihat pada saat ini. (sekretariat Katedral Medan)
Pastor yang pernah bertugas di Paroki Katedral Medan    
                   

Tahun 1905 gedung gereja dibangun oleh para Pater Jesuit;

tanggal 3 Juli 1912 Pater Fischer S.J. meninggalkan pastoran ini setelah menyerahkan reksa Pastoral kepada Kapusin pertama;    
                   
NO TAHUN NAMA PRATER
1 1912 1915 P. Camillus Buil            
2 1912 1916 P. Ferdinandus van Loon            
3 1915 1917 P. Dionysius Pessers            
4 1917 1926 P. Matheus de Wolf            
5 1920 1921 P. Marinus Spanjers            
6 1923 1934 P. Marcelinus Simons            
7 1925 1928 P. Rupertus Verbrugge            
8 1926 1936 P. Suitbertus Damen            
9 1927 1932 P. Marinus Spanjers            
Tanggal 30 Jan 1928 gereja diperluas 6 m (panti imamat) dengan Kapel permandian dan tempat pengakuan dosa serta dengan latar depan & menara yang dirancang oleh Arsitek Han Groenewegen & dilaksanakan oleh Langereis.
        
                  
10 1928 1931 P. Aemilius van der Zanden       
11 1929 1931 P. Aurelius Kerkers            
12 1931 1932 P. Sybrandus van Rossum        
13 1932 1936 P. Ludgerus van der Sande       
14 1935 1936 P. Ansfriedus Liefrink            
15 1936 1937 P. Walterus Derksen            
16 1936 1937 P. Nepomucenus Hamers         
17 1936 1942 P. Aemilius van der Zanden       
18 1937 1942 P. Dagobertus Sinnema            
19 1937 1942 P. Ezechiel Vergeest            
20 1946 1961 P. Aemilius van der Zanden      
21 1946 1948 P. Chrysologus Timmermans     
22 1946 1947 P. Arthur Jansen            
23 1946 1947 P. Paternus van Litsenburg       
24 1946 1948 P. Restitutus Joosten            
25 1946 1947 P. Reginaldus Bleys            
26 1946 1948 P. Marianus van der Acker        
27 1947 1949 P. Werenfridus Joosen            
28 1947 1951 P. Sybrandus van Rossum         
29 1948 1950 P. Nepomucenus Hamers          
30 1948
P. Nivardus Ansems            
31 1948 1955 P. Odilo Wap            
32 1949
P. Siegfridus van Dam            
33 1950 1951 P. Justus Veltman            
34 1950 1957 P. Ludgerus van der Sande       
35 1951 1955 P. Walterus Derksen            
36 1953
P. Ferrerius van den Hurk         
37 1955 1971 P. Diego van den Biggelaar       
38 1955 1967 P. Medardus Raateland            
39 1958 1961 P. Fredericus Fijnaut            
40 1961
P. Ilderfonsus van Straalen       
41 1961 1962 P. Guido de Vet            
42 1962
P. Theodoricus Schrijver         
43 1962 1963 P. Siegfried van Dam            
44 1963 1975 P. Bernardinus vander Laar       
45 1963 1964 P. Wilbertus de Wit            
46 1965 1967 P. Remigius Pennock            
47 1965
P. Wiro van Diemen            
48 1965 1966 P. Theodosius van Eijk            
49 1966 1967 P. Canutus Mensink            
50 1968 1974 P. Pius Datubara            
51 1965 1973 P. Stephanus Krol            
52 1973 1975 P. Remigius Pennock            
53 1974 1975 P. Fidelis Sihotang            
54 1975 1978 P. Paternus van Litsenburg       
55 1979 1981 P. Hubertus Tamba            
56 1980 1987 P. Gabriel Lumbantobing          
57 1981 1985 P. Johannes Veldkamp            
58 1981 1985 P. Johannes Simamora            
59 1982 1986 P. Marcelinus Manalu            
60 1984 1986 P. Timotheus Sinaga            
61 1986 1990 P. Hubertus Tamba            
62 1986 1996 P. Godhard Liebreks            
63 1990 1998 P. Josef Rajagukguk            
64 1998 1999 P. Frietz R. Tambunan            
65 1999 2002 P. Murdi Susanto            
66 2002 2004 P. Sebastianus Eka BS            
67 2004
P. Benno Ola Tage         

Jumat, 29 April 2011

Pelindung misdinar

Pelindung Misdinar

Santo Tarsisius menjadi Santo pelindung bagi para misdinar karena selain dia seorang putra altar, dia juga dengan tekun dan tanpa pamrih melayani imam dalam perayaan Ekaristi. Semangat berkorban yang dimiliki oleh Santo Tarsisius yang patut ditiru karena dia berani mengorbankan nyawanya demi mempertahankan kekudusan Sakramen Mahakudus. Dahulu, menjadi seorang Kristiani sangatlah berbahaya karena pada waktu itu tidak semua orang percaya kepada Tuhan. Ketika itu dia ingin mengantar Sakramen Mahakudus untuk teman-temannya yang di penjara, di tengah perjalanan dia di hadang oleh teman - temannya yang kafir dan ingin merebut Sakramen Mahakudus tersebut dari tangannya. Tetapi Tarsisius dengan berani mempertahankan Sakramen Mahakudus tersebut meskipun harus mati. Kemudian pada pertengahan abad ketiga Tarsisius di jadikan sebagai seorang martir dan peringatan Santo Tarsisius jatuh pada tanggal 15 Agustus. Maka setiap tanggal 15 Agustus, para misdinar memperingati hari ulang tahun dan sekaligus memperingati Santo pelindungnya

Kamis, 28 April 2011

warna warna liturgi

  PUTIH: Melambangkan kemurnian, kejayaan, kemuliaan.
Dipakai pada masa Paskah dan Natal, Hari Raya, Pesta Tuhan Yesus, SP Maria, Para Malaikat dan Para Kudus bukan martir.

  MERAH: Melambangkan Roh Kudus, Penumpahan Darah.
Dipakai pada Minggu Palma, Jumat Agung, Pentakosta, Pesta Para Martir.

  HIJAU: Melambangkan pengharapan dan syukur.
Dipakai pada masa biasa.

  UNGU: Melambangkan pertobatan, duka, mati raga.
Dipakai pada masa Adven dan Prapaskah, Misa arwah.


Senin, 25 April 2011

peralatan misdinar

Bejana-bejana Suci adalah perangkat dan wadah yang dipergunakan dalam perayaan-perayaan liturgis. Dalam Ritus Latin bejana-bejana suci ituialah piala, patena, sibori, piksis, monstrans - lunulla (jepitan untukSMK) - custodia (rumah kaca SMK), yang bersentuhan langsung dengan Sakramen Mahakudus. Bejana-bejana lain yang dipergunakan dalam liturgiadalah ampul, lavabo, turibulum, navikula dan aspergil. Segala perangkat liturgis ini wajib diperlakukan dengan hormat.

PIALA,dalam bahasa Latin disebut “calix” yang berarti “cawan”, adalah yangtersuci di antara segala bejana. Piala adalah cawan yang menjadi wadahanggur untuk dikonsekrasikan, dan sesudah konsekrasi menjadi wadah Darah Mahasuci Kristus. Piala harus dibuat dari logam mulia. Piala melambangkan cawan yang dipergunakan Tuhan kita pada Perjamuan Malam Terakhir di mana Ia untuk pertama kalinya mempersembahkan Darah-Nya;piala melambangkan cawan Sengsara Kristus (“Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku,” Mrk 14:36); dan yang terakhir, piala melambangkan Hati Yesus, dari mana mengalirlah Darah-Nya demi penebusan kita.


PURIFIKATORIUM,berasal dari bahasa Latin “purificatorium”, adalah sehelai kain lenanputih berbentuk segi empat untuk membersihkan piala, sibori dan patena.Sesudah dipergunakan, purifikatorium dilipat tiga memanjang dan diletakkan di atas piala.



PATENA,berasal dari bahasa Latin “patena” yang berarti “piring”, adalah piring di mana hosti diletakkan. Patena, yang sekarang berbentuk bundar,datar, dan dirancang untuk roti pemimpin Perayaan Ekaristi, aslinya sungguh sebuah piring. Dengan munculnya roti-roti kecil yang dibuat khusus untuk umat yang biasanya disimpan dalam sibori, fungsi dari patena sebagai piring menghilang; maka bentuknya menjadi lebih kecil dan sejak abad kesebelas sudah dalam ukuran seperti sekarang. Menurut Pedoman Umum Misale Romawi (2000), untuk konsekrasi hosti, sebaiknyadigunakan patena yang besar, di mana ditampung hosti, baik untuk imamdan diakon, maupun untuk para pelayan dan umat (No. 331). Patena, hendaknya dibuat serasi dengan pialanya, dari bahan yang sama dengan piala, yaitu dari emas atau setidak-tidaknya disepuh emas. Patena diletakkan di atas purifikatorium.



PALLA,berasal dari bahasa Latin “palla corporalis” yang berarti “kain untukTubuh Tuhan”, adalah kain lenan putih yang diperkeras, sehingga menjadikaku seperti papan, bentuknya bujursangkar, dipergunakan untuk menutupipiala. Palla melambangkan batu makam yang digulingkan para prajuritRomawi untuk menutup pintu masuk ke makam Yesus. Palla diletakkan di atas Patena.



KORPORALE,berasal dari bahasa Latin “corporale”, adalah sehelai kain lenan putih berbentuk bujursangkar dengan gambar salib kecil di tengahnya;seringkali pinggiran korporale dihiasi dengan renda. Korporale adalahyang terpenting dari antara kain-kain suci. Dalam perayaan Ekaristi,imam membentangkan korporale di atas altar sebagai alas untuk bejana-bejana suci roti dan anggur. Setelah selesai dipergunakan,korporale dilipat menjadi tiga memanjang, lalu dilipat menjadi tiga lagi dari samping dan ditempatkan di atas Palla.



SIBORI,berasal dari bahasa Latin “cyborium” yang berarti “piala dari logam”,adalah bejana serupa piala, tetapi dengan tutup di atasnya. Siboriadalah wadah untuk roti-roti kecil yang akan dibagikan dalam Komunikepada umat beriman. Sibori dibuat dari logam mulia, bagian dalamnyabiasa dibuat dari emas atau disepuh emas.  
PIKSIS,berasal dari bahasa Latin “pyx” yang berarti “kotak”, adalah sebuahwadah kecil berbentuk bundar dengan engsel penutup, serupa wadah jamkuno. Piksis biasanya dibuat dari emas. Piksis dipergunakan untukmenyimpan Sakramen Mahakudus, yang akan dihantarkan kepada mereka yangsakit, atau yang akan ditahtakan dalam kebaktian kepada Sakramen Mahakudus.



MONSTRANS,berasal dari bahasa Latin “monstrans, monstrare” yang berarti“mempertontonkan”, adalah bejana suci tempat Sakramen Mahakudusditahtakan atau dibawa dalam prosesi.



AMPUL adalah dua bejana yang dibuat dari kaca atau logam, bentuknya sepertibuyung kecil dengan tutup di atasnya. Ampul adalah bejana-bejana darimana imam atau diakon menuangkan air dan anggur ke dalam piala. Selaluada dua ampul di atas meja kredens dalam setiap Misa.


LAVABO,berasal dari bahasa Latin “lavare” yang berarti “membasuh”, adalahbejana berbentuk seperti buyung kecil, atau dapat juga berupa mangkuk,tempat menampung air bersih yang dipergunakan imam untuk membasuhtangan sesudah persiapan persembahan. Sebuah lap biasanya menyertailavabo untuk dipergunakan mengeringkan tangan imam.



TURIBULUM(disebut juga Pedupaan/wiruk), berasal dari bahasa Latin “thuris” yang berarti “dupa”, adalah bejana di mana dupa dibakar untuk pendupaan liturgis. Turibulum terdiri dari suatu badan dari logam dengan tutupterpisah yang menudungi suatu wadah untuk arang dan dupa; turibulumdibawa dan diayun-ayunkan dengan tiga rantai yang dipasang padabadannya, sementara rantai keempat digunakan untuk menggerak-gerakkantutupnya. Pada turibulum dipasang bara api, lalu di atasnya ditaburkanserbuk dupa sehingga asap dupa membubung dan menyebarkan bau harum.Dupa adalah harum-haruman yang dibakar pada kesempatan-kesempatanistimewa, seperti pada Misa yang meriah dan Pujian kepada Sakramen Mahakudus.



NAVIKULA(disebut juga Wadah Dupa) adalah bejana tempat menyimpan serbuk dupa. Dupa adalah getah yang harum dan rempah-rempah yang diambil daritanam-tanaman, biasanya dibakar dengan campuran tambahan gunamenjadikan asapnya lebih tebal dan aromanya lebih harum. Asap dupa yangdibakar naik ke atas melambangkan naiknya doa-doa umat beriman kepadaTuhan. Ada pada kita catatan mengenai penggunaan dupa bahkan sejak awalkisah Perjanjian Lama. Secara simbolis dupa melambangkan semangat umatKristiani yang berkobar-kobar, harum mewangi keutamaan-keutamaan dannaiknya doa-doa dan perbuatan-perbuatan baik kepada Tuhan.



ASPERGILUM,berasal dari bahasa Latin “aspergere” yang berarti “mereciki”, adalahsebatang tongkat pendek, di ujungnya terdapat sebuah bola logam yangberlubang-lubang, dipergunakan untuk merecikkan air suci pada orangatau benda dalam Asperges dan pemberkatan. Bejana Air Suci adalah wadahyang dipergunakan untuk menampung air suci; ke dalamnya aspergilumdicelupkan.



SACRAMENTARIUM atau Buku Misa adalah buku pegangan imam pada waktu memimpin perayaan Ekaristi, berisi doa-doa dan tata perayaan Ekaristi.
LECTIONARIUM atau Buku Bacaan Misa adalah buku berisi bacaan-bacaan Misa dari Kitab Suci. EVANGELIARIUM adalah Buku Injil.




Minggu, 24 April 2011

misdinar adalah putar putri altar